KEWASPADAAN PARA MUHADITSIN DALAM MEMVERIFIKASI HADITS
Mauritania, 20 Mei 2023.
Oleh : Fadel Rayhan.
Sudah berpuluh-puluh abad Nabi saw telah wafat. Namun ilmu dan kalam yang dahulu beliau pernah sampaikan masih banyak yang terukir dengan tinta emas. Ajaran yang beliau sampaikan tidak terkikis oleh masa, tidak tergerus oleh budaya dan tidak punah walau ratusan dekade telah melewatinya. Semua yang ada tidak luput dari peran para Muhadits yang berjasa besar menjaga dan melestarikan ajaran beliau. Mereka sangat memperhatikan dengan hati-hati terkait apa saja yang berkaitan dengan nabi. Mereka sangat menjaga kualitas sebuah hadits yang mereka dapatkan.
Dikisahkan bahwasannya Imam Syu’bah yang di gelari Amirul mukminin di dalam ilmu hadits, beliau tidak rela kecuali jika mendengar sebuah hadits sebanyak dua puluh kali. Ucapan beliau ini memilki dua makna. Makna yang pertama ialah, beliau tidak rela mendengar sebuah hadits dari guru beliau, melainkan beliau telah mendengar hadits tersebut sebanyak dua puluh kali. Begitulah apa yang dirasakan sebagian muhaditisin. Sebagaimana di kisahkan juga bahwasannya Ibrohim bin Abdillah Al Harowi yang merupakan salah seorang murid Husyaim, beliau mengatakan, “Tidak ada satupun dari hadits yang di sampaikan Husyaim, melainkan aku telah mendengarnya sebanyak dua puluh hingga tiga puluh kali”. Begitu juga apa yang terjadi pada Ma’n bin Isa, ketika beliau menceritakan mengenai riwayat-riwayat yang beliau dapatkan dari Imam Malik. Beliau mengatakan, “Aku telah mendengar riwayat hadits yang serupa lebih dari tiga puluh kali”.
Makna kedua dari ucapan Imam Syu’bah diatas ialah, beliau tidak rela mendengar satu riwayat hadits, melainkan telah mendengar riwayat hadits yang serupa dari dua puluh guru yang berbeda. Dan inilah apa yang di rasakan oleh mayoritas Muhaditsin. Dikisahkan bahwa Yahya ibnu Ma’in mengatakan, “Jika kami tidak menulis satu hadits melalui tiga puluh riwayat yang berbeda, maka kami tidak akan memahaminya”.
Apa yang dikerjakan dan diperbuat oleh para muhaditsin diatas serupa dengan apa yang dilakukan oleh sebagian peneliti, wartawan dan para politikus di era sekarang ini. Ketika mereka ingin mengetahui suatu hal, mereka akan mengumpulkan berita yang berkaitan dengan kejadian tersebut dari banyak narasumber yang berbeda-beda, sehingga mereka akan bisa memahami, menganalisan dan menyimpulkan dengan benar apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Al Allamah Sayid Munadzir Ahsan Al Kailani mengatakan, “Bebarapa kitab di sebutkan di dalamnya seratus ribu hadits hadits Nabi saw. Orang-orang yang tidak memahami dengan benar akan hal ini akan menyangka, bahwasannya jumlah hadits baik berupa ketetapan, sabda ataupun perbuatan Nabi saw mencapai seratus ribu. Padahal semua itu tidak benar. Aku telah menyebutkan persaksian dari Imam Hakim pengarang kitab Al Mustadrok, bahwasannya jumlah hadits shohih yang benar-benar memenuhi kriteria tidak lebih dari sepuluh ribu hadits saja. Jika kita tambah dengan bilangan hadits hasan dan dlo’if tanpa menyebutkan mukarror (pengulangan hadits), niscaya jumlah keseluruhan hadits hanya tiga puluh atau tiga puluh dua ribu hadits saja. Akan tetapi di dalam istilah para Muhadits, bahwasannya jika mereka mendengar satu hadits dari sepuluh guru yang berbeda-beda, maka mereka akan menganggapnya sebagai sepuluh hadits”.
Imam Dzahabi menceritakan di dalam kitab beliau Syiar A’lam Nubala ketika beliau menyebutkan biografi Ibrohim bin Sa’id Al Baghdadi, bahwasannya suatu hari Ja’far ibnu Khoqon bertanya kepada Ibrohim bin Sa’id tentang sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Sayyidina Abu Bakar As Shidiq. Ibrohim bin Sa’id pun memanggil budak wanitanya dan berkata, “tolong ambilkan untukku jilid ke dua puluh tiga dari kitab Musnad Abu Bakar”. Ja’far ibnu Khorqon heran dan berkata kepada Ibrohim bin Sa’id, “Hadits yang di riwayatkan oleh Sayyidina Abu Bakar, tidak lebih dari lima puluh hadits saja. Kemudian dari mana engkau bisa mengumpulkan riwayat Abu Bakar ini sebanyak ini ?”. Ibrohim bin Sa’id mengatakan, “Semua hadits, jika aku tidak mendapatkannya hingga seratus jalur periwayatan, maka seolah di dalamnya aku seorang yang yatim”. Ibrohim bin Sa’id akan menganggap dirinya seorang yatim jika ia tidak mendengar satu hadits dari seatus jalur periwayatan yang berbeda. beginilah keadaanya, beliau menjadikan satu hadits yang sama, sebagai seratus hadits. Sehingga tidak heran jika beliau bisa mengumpulkan riwayat sayyidina Abu Bakar hingga berjilid-jilid.
Imam Hakim menyebutkan di dalam kitab beliau Ma’rifat Ulumil Hadits, bahwasannya Sufyan Attsauri mengatakan, “Ketika aku meriwayatkan hadits dari seorang, maka secara umum riwayat tersebut terbagi menjadi tiga macam, pertama seorang yang aku dengarkan haditsnya dan aku ambil agamanya. Kedua, seorang yang aku dengarkan haditsnya, kemudian aku mentawaqufnya. Dan ketiga, seorang yang aku dengar haditsnya, namun aku tidak menganggap riwayat darinya. Karenanya sebelum mendengar hadits dari seorang, aku ingin mengetahui terlebih dahulu madzhabnya”.
Imam Al Hakim menceritakan suatu kisah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad berkata, “Dahulu, ketika kami berada di Shan’a untuk belajar hadits, diantara temanku saat itu ialah Yahya ibnu Ma’in. Suatu hari aku melihatnya sedang duduk di suatu tempat sambil menulis. Ketika datang seorang kepadanya, maka secara spontan ia menyembunyikan tulisan tersebut. Ketika aku bertanya kepadanya akan hal tersebut, ia pun menjawab, “Aku sedang mencatat riwayat maudlu’ yang mengatas namakan sayyidina Anas r.a dari Aban”. Maka aku berkata kepadanya, “Mengapa engkau mencatat kumpulan hadits maudlu dan bohong ini?”. Yahya ibnu Ma’in menjawab, “wahai saudaraku, aku menuliskannya supaya aku bisa menghafalnya. Sesungguhnya aku tahu bahwasannya hadits ini maudlu’. Akan tetapi tujuanku ialah, seandainya ada seorang yang ingin menipu dengan memasukkan rowi tsiqoh sebagai ganti dari Aban, maka aku bisa menghilangkan kesamaran tersebut dengan menampakkan realita yang sebenarnya, bahwasannya peletakan rowi tsiqoh di dalamnya salah. rowi yang benar untuk menempati posisi tersebut ialah Aban”. Karena tujuan inilah, Yahya ibnu Ma’in mengumpulkan beberapa hadits maudlu’. Beliau juga mengatakan, “Kami menulis dari rowi yang pendusta, dan kami menyalakan lentera, sehingga dengannya kami bisa mengeluarkan roti yang matang”.
Begitulah keadaan para muhadits terdahulu, mereka mentelaah seluruh riwayat yang berbeda-beda, sehingga mereka bisa menganalisa dan membedakan mana saja hadits-hadits yang shohih. Begitu juga sebab banyaknya jumlah hadits ialah, karena perasaan para Muhaditsin ingin untuk menyebutkan seratus guru untuk sebuah hadits yang sama. Seingga ketika mereka tidak mendapatkan hadits tersebut dengan jumlah yang mereka inginkan, maka mereka akan menganggap dirinya sebagai seorang yang Yatim. Kita bisa mengambil sebuah contoh untuk hal ini dari Imam Syu’bah, yang jumlah guru beliau dari kalangan tabi’in saja sebanyak empat ratus orang. Sebagaimana yang di sebutkan oleh Imam Dzahabi. Dan Imam Syu’bah tidak meriwayatan sebuah hadits melainkan telah mendengar hadits tersebut sebanyak dua puluh kali dari guru beliau.
Komentar
Posting Komentar