CINTA DARI SURGA
Mauritania, 16 Maret 2023
Oleh: Fadel Rayhan.
Suara klakson mobil yang menjemputku memecahkan heningnya cakrawala. Pukul 5.30 dini hari, aku dan beberapa kawanku akan pergi ke Ibu kota. Salah seorang temanku akan kembali ke Indonesia dan berjuang disana setelah bertahun-tahun ia tak pernah menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Aku ikut mengantar keberangkatan kawanku ke Ibu kota. Sebelum kepulangannya pula, kami akan berkunjung terlebih dahulu ke salah seorang Ulama besar dunia yang namanya banyak menghiasi sampul-sampul kitab ternama.
Setelah 3 jam perjalanan berlalu, akhirnya kami sampai di Ibu kota. Kulit kami mengkerut, wajar cuaca pagi sangat dingin dan kami pula memesan tempat duduk di bak belakang terbuka mobil supaya lebih menghemat biaya, haha. Sesampainya kami di ibu kota, kami langsung menuju ke Mahdoroh (pesantren) Syekh Hasan bin Ahmad Al khodim. Beruntung salah satu kawan kami dari Prancis ia siap mengantarkan kami dengan mobil secara cuma-cuma, Alhamdulillah rizki anak soleh haha. Perjalanan dari Ibu Kota ke kediaman beliau memakan waktu kurang lebih 2 jam lamanya. Di tengah perjalanan kami sedikit mendapat hambatan. Hampir setiap 10 Km ada sekumpulan polisi menggeledah seisi mobil kami. Maklum beberapa hari yang lalu ada tragedi yang sedikit membahayakan Negara. Angin sepoi-sepoi mulai mengelus lembut kulit dan mengacak-acak rambutku. Perjalanan 2 jam dari Ibu kota sudah cukup memberatkan mataku untuk terus terjaga, aku terbangun dengan tiupan angin segar. "Kita sudah mau sampai", kata Amin salah satu temanku dari Prancis. Kami serempak menjawab" Akid anta? (Serius kamu)". Dia menganggukkan kepala dan menunjuk gang berjarak 100 Meter di depan sana. Susana sangat berbeda disana, pepohonan rindang, angin sejuk dan aroma pantai yang bisa kami cium dari beberapa kilometer, sangat sangat berbeda dengan suasana dan cuaca yang ada di Nabbagiah tempat kami tinggal.
Setelah beberapa menit kami masuk kedalam gang, akhirnya kami semua sampai di Mahdoroh asuhan Syekh Hasan Ahmad Al khodim. Ada 5 pelajar Indonesia yang menetap dan belajar disana dan kami disambut secara ramah oleh mereka. Kami berbincang dan beramah tamah hingga adzan Maghrib berkumandang. Kami pun bergegas menuju ke masjid supaya dapat segera memandang wajah seorang Alim kabir yang selama ini aku sering baca karangan karangannya. Jujur, aku sangat tertarik dan jatuh hati akan setiap penggal kata di bait2 tulisan beliau, nama beliau sangat harum dan terkenal di seantero dunia, buku buku beliau menjadi rukun wajib setiap toko buku ternama, nama beliau selalu di elu elukan oleh para pencari ilmu di mana mana, dan beliau di gelari seorang Mujaddid pada zamannya. Namun meski nama beliau begitu tidak asing di telinga ku, jujur aku belum pernah sekalipun melihat wajah Syekh Hasan secara langsung. Aku bergegas menuju masjid, dengan harapan bisa segera memandang wajah seorang yang selama ini aku kagumi. Setelah beberapa menit menanti, Tak lama kemudian temanku berbisik kepadaku, “itu Syekh Hasan datang”. Aku menengok dan sama sekali tidak ku temukan seorang yang sangat agung dan harum namanya, akhirnya aku bertanya lagi kepadanya, “Mana Syekh Hasan?”. Kawanku menunjuk kepada seorang tua renta yang sudah bungkuk memakai pakaian lusuh tanpa memakai alas kaki berjalan ke arah masjid, beliau selalu menunduk dalam jalannya. Aku tertegun, seorang yang selama ini begitu aku agungkan keilmuannya dan aku selalu terheran dengan setiap penggal kata katanya, ternyata sesederhana ini. Sungguh jauh dari bayanganku. Tidak ada baju mahal, kendaraan mewah, dan pengawal gagah di sekitar beliau. Bahkan kami seorang yang keilmuannya sangat jauh di bawah keilmuan beliau terlihat lebih unggul secara penampilan di banding beliau. Pandangan pertama ku kepada beliau benar-benar menampar sekeras kerasnya wajahku, menggetarkan hati sanubariku. Menyadarkan seberapa jauhnya kebaikan dari sisiku, betapa sombong dan buruknya diriku. Selama ini aku hanya mendengar nama beliau tanpa pernah melihat wajah beliau secara langsung. Dan setelah aku melihat secara langsung di kali pertama ini, beliau semakin menawan bagiku. Selepas sholat isya aku meminta izin kepada cucu beliau supaya aku diizinkan untuk bisa bertemu langsung dengan beliau. Alhamdulillah, aku diizinkan.
Aku melangkahkan kaki memasuki rumah kecil sangat sederhana, kami duduk di atas pasir beralaskan tikar tipis ala kadarnya. Aku semakin terpesona dengan keadaan beliau. Sambil menunggu beliau selesai dari wiridnya, aku berbincang kepada cucu beliau. “Syekh, bagaimana Syekh Hasan bisa mengarang ratusan kitab monumental?”. Cucu beliu menjawab, “Beliau menulis kitab tidak pernah sendiri, beliau hanya mendektekan kepada istrinya, dan istri beliau yang menuliskan semuanya”. Deg aku semakin terheran dengan kehidupan beliau. Bukan hanya beliau yang hebat, bahkan istri beliau sangat luar biasa.
Selama ini aku terheran, bagaimana bisa dizaman saat ini ada seorang Alim kabir seperti beliau, aku tersadar, diantara sebab keberkahan dan kebaikan beliau ialah istri beliau. Betapa banyak diantara orang-orang berilmu agama yang kurang beruntung dan mendapatkan jodoh yang justru menurunkan kualitas agamanya, dan di depan ku saat ini ialah salah satu potret suksesnya seorang muslim dengan barokahnya istri dan cinta yang Allah hantar dari Surga. Memang benar, bahwa diantata kunci kesuksesan seorang ialah dengan kebaikan dan kesalehan istrinya. Alhamdulillah syukur kepada Allah swt aku diizinkan bertemu langsung, bertatap wajah dan berbincang berdua bersama beliau serta mendapat doa dan kecupan di kepala tanda kasih sayang guru kepada murid, langsung dari Syekh Hasan Ahmad Al khodim. Semoga Allah karuniai kami, pasangan dan keturunan kami ilmu dan kebaikan seperti yang Allah telah berikan kepada para Ulama wa solihin…. AMIN
Diantara beberapa karangan beliau yang di dektekan kepada istri beliau,
مرام المجتدي، من شرح كفاف المبتدي (طبع ثلاث مرات)
دفاع المعتدي، علی مرام المجتدي
دليل الناسك، لما يخفی من المناسك
هداية السعادة، إلی معرفة النحاة
المسعد، بشرح آداب المسجد
إعانة المتفهم، بشرح آداب المتعلم
الفوائد الكفيلة، بمعرفة الوسيلة (طبع مرتين)
نخبة المطلوب، من شرح مطهرة القلوب (طبع مرتين)
سلم المطالع، لدرك الكوكب الساطع (ألفية السيوطي في أصول الفقه)
اللآلئ الحسان، علی محارم اللسان
الجامع المحرر، بشرح نظم الدرر (ألفية السيوطي في مصطلح الحديث)
سقاية الظمآن، من آداب تلاوة القرآن
بغية الأبرار، من شرح قرة الأبصار
محصل الأرب، من شروسيلة التذكر، بشرح نظم التفكر
Dan masih banyak lagi, semoga Allah anugrakan kita kebaikan dunia akhirat.
Komentar
Posting Komentar